Antara Revolusi dan Terorisme
Qatar baik secara resmi atau rahasia berusaha memaksakan kehendaknya kepada negara-negara islam yang memiliki visi sama dengannya. Ini dilakukan dalam konteks untuk membangkitkan “Arab Spring”. Strategi dilakukan dengan cara mendanai Ikhwanul Muslimin dan menyerahkan (media) Al Jazeera kepada mereka. Strategi ini juga untuk mendukung tentara bayaran Al Qaeda yang akan memimpin Tentara Pembebasan Suriah.
Skenario ini rupanya menimbulkan keprihatinan serius di Israel dan mereka yang selama ini mendukung “perang sipil” di Suriah.
Selama ini anggota Dewan Keamanan PBB berbeda pendapat atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di Suriah. Di satu sisi, yakni Prancis, Amerika, Inggris dan Amerika Serikat mengklaim bahwa yang terjadi di Suriah adalah revolusi yang telah memporak-porandakan Suriah. Berdasarkan berita-berita di media mainstream Suriah telah mengalami kekahalah besar. Sedangkan di sisi lain, seperti Rusia dan China menilai bahwa yang terjadi adalah Suriah sedang menghadai gerombolan bersenjata dari asing (teroris), yang bertempur secara licik dengan menggunakan penduduk sipil sebagai tamengnya.
Penyeledikan terakhir, yang dilakukan oleh Jaringan Voltaire, menyatakan bahwa “Kami telah mengumpulkan banyak kesakisan dari mereka yang selamat dari serangan senjata oleh gerombolan asing. Mereka (gerombolan) tersebut adalah warga Irak, Yordania atau Libya serta Pasthun, yang dikenali dari aksen bicaranya”.
Kerjasama Al Qaeda, FSA dan NATO
Akhir tahun 2011, sejumlah surat kabar Arab membahas infiltrasi pejuang ke Suriah, sekitar 600 sampai 1.500 personil. Mereka adalah kelompok pejuang yang sebelumnya ada di Libya (IFGL). Sementara Al Qaeda ada di Libya sejak tahun 2007. Sedangkan press di Libya melaporkan adanya upaya penahanan Abdel Hakim Belhaj (pemimpin Al Qaeda Libya sekutu Osama bin Laden). Pada akhirnya dia menjadi gubernur militer Tripoli atas hadiah dari NATO. Toh pada akhirnya, kehadiran Belhaj di Turki dikabarkan oleh media Turki. Selanjutnya dia pergi ke Suriah.
Laporan (atas fakta) tersebut membuat tidak percaya banyak pihak. Padahal selama ini Al Qaeda dan NATO digambarkan sebagai musuh bebuyutan. Kerjasama antara keduanya jelas mustahil. Ini semakin memperkuat tesis (saya) di tahun 2004, bahwa peristiwa WTC 11 September (yang diklaim dilakukan oleh Al Qaeda) sebenarnya adalah “sandiwara”. Para pejuang Al Qaeda sebenarnya adalah tentara bayaran dari bagian operasi CIA.
Selama seminggu, koran Spanyol ABC, telah menerbitkan laporan harian oleh fotografer Daniel Iriate. Ia bersama Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di utara, di perbatasan Turki. Iriate termasuk penulis yang memilih istilah “Revolusi Suriah” dalam tulisannya, dan selalu diikuti kata-kata cukup keras terhadap Rezim Al Assad. Menurut Kolonerl Riyadh Al Assad, seorang desersi SAA (Syrian Arab Army) menyebutkan bahwa FSA beranggotakan lebih dari 2000 orang. Namun menurut pihak berwenang Suriah hanya beberapa ratus saja. Hari sabtu, 17 Desember 2011, Daniel Iriate (jurnalis ABC Spanyol) menggambarkan sebuah pertemuan mengejutkan. Ia dibawa oleh (teman-temannya) FSA ke tempat persembunyian. Di situ dia bertemu juga dengan tiga gerilyawan asing dari Libya.
Orang pertama, adalah al-Mahdi Harati, seorang berkebangsaan Libya yang tinggal di Irlandia sebelum bergabung dengan Al Qaeda. Di akhir perang Libya, ia diangkat menjadi komandar Brigade Tripoli. Selanjutnya ia menjadi orang kedua di Dewan Militer Tripoli yang dipimpin oleh Abdel Hakim Belhaj. Namun, ia mengundurkan diri NTC, karena berselisih dengan Dewan Transisi Nasional. Ia kemudian meninggalkan Libya dan menurut orang kepercayaannya ia akan kembali ke Irlandia bersama istri Irlandianya. Namun nyatanya dia ke Suriah. Al-Mahdi Harati adalah anggota Al Qaeda, aktivis pro Palestina. Bulan Juni 2011, dia ditangkap di kapal Turki Mavi Marmara, bersama beberapa agen rahasia. Ia terluka dan ditahan sembilan hari di Israel. Namun pada pertempuran di Tripoli, Al Hamdi Harati diketahui memimpin kelompok Al Qaeda mengepung dan menyerang Hotel Rixos, dimana terdapat Jaringat Pers Sahabat Libya Internasional. Menurut saksi mata, Mahdi Al Harati sedang diberikan pengarahan oleh petugas keamanan Prancis di basemen. Orang kedua, adalah fotografer Spanyol yang ternyata adalah Kikli Adem, seorang letnan dari pasukan Abdel Hakim Belhaj dan ketiga, adalah yang dipanggil Fouad, dari Libya.
Kesaksian Iriate, yang seperti Beo, telah memperkuat pers bahwa Tentara Pembebasan Suriah (FSA) diawasi oleh “relawan” dari Al Qaeda Libya, setidaknya 600 orang. Seluruh operasi tersebut dikendalikan oleh Abdel Hakim Belhja secara pribadi atas bantuan pemerintah Erdogan.
Bagaimana bisa menjelaskan bahwa ABC (Spanyol) sebagai surat kabar anti-Assad telah mempublikasikan kesaksian tersebut, yang menyoroti gaya NATO yang memuakkan dan menegaskan tesis perlunya pemerintah Suriah dilucuti senjatanya? Namun selama itu berita yang menonjol adalah memberitakan desersinya tentara Assad. Hal ini menjadi berita yang menendukung dan memprovokasi bagi penikmat berita Jihad Islam di seluruh dunia.
Perdana menteri Spanyol,Jose Maria Aznar, menulis di CNBS Guest Blog, yang mengungkapkan bahwa pada 9 Desember 2011 Abdel Hakim Belhaj dicurigai terlibat dalam serangan 11 Maret 2004 di Madrid, sebuah peristiwa yang mengakhiri karir politik Aznar. Pernyataan Maria Aznar ini sesuai dengan intervensi teman-temannya di Pusat Yerussalem, sebuah think-thank yang dipimpin oleh duta besar Israel untuk PBB Dore Emas.
Mereka secara terbuka meragukan tentang Validitas startegi CIA saat ini yang menempatkan kaum Islamis untuk berkuasa di Afrika Utara. Kritik mereka adalah pada Ikhwanul Muslimin, kelompok rahasia, serta terhadap dua tokoh Libya : Abdel Hakim Belhaj dan temannya Syeikh Ali Al-Shalabi. Yang terakhir ini dianggap sebagai pemimpin Al Qaeda yang baru di Libya. Kedua pria ini dianggap sebagai pion Qatar di Libya baru. Syeikh Shalabi mendistribusikan 2 $ miliar dana Qatar untuk membantu Al- Qaeda di Libya. Namun itu hanya modus pencitraan buruk di mata Senator Amerika saja.
Dengan demikian, kontradiksi yang disembunyikan selama dekade akhir ini muncul kembali : tentara bayaran yang sebelumnya dibiayai oleh Osama bin Laden, tidak pernah berhenti bekerja melayani kepentingan strategis AS sejak perang di Afganistan, termasuk serangan 11 September. Namun oleh media mainstrean, mereka digambarkan sebagai musuh bebuyutan oleh pemimpin Barat.
Sumber : TM 2012
