Al Quran secara evolutif mengarahkan upaya upaya agar secara berangsur angsur keberadaan budak budak yang pada waktu itu telah diterima oleh Masyarakat pra Islam sebagai institusi yang membentuk system social kemasyarakatan diminimalisir.
Islam menydari jika perubahan struktur kemasyarakatan yang radikal justru akan menimbulkan kekacauan. Dengan system itu diharapkan budak budak itu akan mendapatkan hak membebaskan diri, atau dibebaskan.
Peperangan tidak dapat dihindarkan jika kemudian terjadi ada perampasan perang, yang dalam hal ini tidak hanya merupakan materi saja, tetapi kaum perempuan pada waktu itu dipandang tidak lebih dari barang rampasan perang, dan memunculkan budak budak wanita yang legal digauli sebagaimana istri.
Dengan cara menggariskan nilai nilai yang harus diperhatikan dan menjadi semacam gengsi ditengah masyarakat dalam memperlakukan budak dengan baik, Al Quran berhasil memberikan solusi yang terbaik.
{لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۴وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱډخِرِ وَٱلْمَلَـٰۤﯩـِٕكَةِ وَٱلْكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّۧنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَـٰهَدُوا۴ۖ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِۗ أُو۵لَـٰۤﯩـِٕكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۴ۖ وَأُو۵لَـٰۤﯩـِٕكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ}
“Kebaikan bukanlah ketika Kalian memalingkan wajahmu kea rah Timur dan Barat, tetapi kebaikan adalah ketika orang itu beriman kepada Allah, hari akhir, Malaikat, Al Kitab, dan para Nabi, dan yang memberikan hartanya kepada yang di kasihi, terdiri dari para kerabat, anak anak yatim, orang orang miskin, ibnu sabil, pengemis dan kepada budaknya, dan mendirikan Shalat, dan menunaikan zakat, dan orang yang memenuhi janjinya, dan orang orang yang sabar ketika kondisi luang dan sempit dan ketika dalam peluang, merekalah orang orang yang benar, dan merekalah orang orang yang bertaqwa” (Al Baqoroh 177)
Al Quran juga memberikan solusi dan melegalkan para budak yang ingin membebaskan dirinya dengan cara membayar (Mukattab) seperti dalam Surat Annur Ayat 33 berikut:
{وَلْيَسْتَعْفِفِ ٱلَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦۗ وَٱلَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَـٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ فَكَـاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًاۖ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِىۤ ءَاتَـﯩـٰكُمْۚ وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَـٰتِكُمْ عَلَى ٱلْبِغَآءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوا عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَاۚ وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعْدِ إِكْرَٰهِهِنَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ}
Al Quran juga menjadikan pembebasan budak sebagai sara untuk menebus keslahan kesalahan seperti dalam kasus persetubuhan yang melanggar aturan Syara’atau kasus pembunuhan seperti dalam Annisa ayat 92:
{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلا خَطَـًٔاۚ وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطًَٔا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰۤ أَهْلِهِ إِلا أَن يَصَّدَّقُواۚ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍۖ وَإِن كَانَ مِن قَوْم۠ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَـٰقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰۤ أَهْلِهِۦ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا}
Dalam Islam juga mengatur perbudakan untuk meminimalir perbudakan itu sendiri dengan cara menasabkan anak dari Ummul Walad kepada Tuannya, dengan demikian status sosialnya akan terangkat, dan Islam tidak memperkenankan penjualan Budak yang seperti ini.