Beberapa kali saya mendapat cerita lucu tentang semangat dakwah di perkotaan, betapa sekelompok orang yang punya ciri khas bercelana cingkrang mendekati gerombolan Pemuda yang sedang asyik ngobrol di tempat tempat yang dikondisikan sebagai tempat bersantai.
Mereka dengan semangat dan tabah menceramahi para pemuda yang kebanyakan dari kalangan Mahasiswa untuk ingat mati, bercerita tentang panasnya api neraka, indahnya taubat dan segala macam kebaikan sorga.
Iya, iya baik, bagus, terimakasih, anda benar, begitulah respon para pemuda itu ketika itu, dan gelak tawa segera meledak sesaat setelah sang pendakwah itu berlalu melanjutkan Dakwahnya. Itu masih mending, terkadang sang pendakwah hanya dibiarkan saja berkhutbah, sementara para pemuda itu melanjutkan ngobrol asyiknya tanpa menghiraukan jalan hidayah dibentangkan oleh sang pendakwah.
Tidak dalam rangka mengkrtik penampilan atau gaya dakwah mereka, tetapi seperti yang telah maklum bahwa jika semangat dakwah mereka memang termotivasi oleh Ayat 104 Surah Ali ,Imran berikut, ada beberapa hal yang perlu ditawarkan, agar semangat dakwah dapat memenuhi sasaran dan maknanya:
ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون
“Dan agar ada dari kalian Ummat yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan dengan hal yang ma’ruf, dan mencegah dari munkar, dan demikianlah mereka yang beruntung”
Sekilas memang tidak ada masalah jika ada yang mengajak kepada kebaikan dan amar ma’ruf nahi munkar, apalgi jika kita cermati ada semacam kalimat perintah yang jelas dalam Ayat tersebut.
Namun sesederhana itukah pemahaman pesan didalamnya? Para mufassir justru menitik beratkan pembahasan Ayat tersebut pada kalimat min didalamnya. Apakah min tersebut mengandung pengertian sebagian atau keseluruhan.
Yang berpendapat min disitu adalah min dalam pengertian keseluruhan dengan membandingkannya dengan Ayat 110 Surat Ali ,Imron :
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر
“Kalian adalah sebaik baik Ummat yang dimunculkan kepada Manusia, kalian perintah yang ma’ruf dan mencegah dari yang munka “
Ada yang berpendapat bahwa min tersebut adalah dalam pengertian Tab,idl atau sebagian saja, bahkan ada juga yang berpendapat khitob didalamnya adalah tertuju pada Para Sahabat Rosulullah saja. Dan alasan yang berpendapat min tab,idl ini memakai perbandingan Ayat 122 Surat Attubah:
فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين
“Maka mbokya berangkat dari sebagian kelompok dari Mukminin satu kelompok untuk memperdalam Agama”
Jika kita memilih opsi pertama maka konskwensinya setiap mukallaf wajib baginya untuk beramar ma’ruf nahi munkar sesuai klasnya masing masing, yaitu dengan tangannya, lisannya dan hatinya. Tentu saja opsi pertama ini masih perlu pembahasan panjang lebar sesuai syarat dan pasyaratnya disetiap jenjang atau klasnya masing masing, seperti kekuasaan adalah haknya Ulil Amri, Lisan haknya ‘Ulama dan Hati haknya kaum lemah.
Berikut adalah cuplikan pentfsiran opsi pertama dalam tafsir Arrozi:
هو أنه لا مكلف إلا ويجب عليه الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، إما بيده، أو بلسانه، أو بقلبه، ويجب على كل أحد دفع الضرر عن النفس إذا ثبت هذا فنقول: معنى هذه الآية كونوا أمة دعاة إلى الخير آمرين بالمعروف ناهين عن المنكر
Nah jika kita memilih opsi yang kedua, yaitu min Tab,idl maka dijelaskan didalamnya bahwa yang mendapat perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah ‘Ulama, dengan alasan seorang yang beramar ma’ruf nahi munkar haruslah tahu batas dan definisi ma’ruf atau munkar, jangan sampai ada tindakan gegabah sebab pemahaman munkar misalnya yang sebnarnya bukanlah dalam kategori munkar, atau menganggap ma’ruf tetapi sebenarnya adalah munkar. Lihat dalam tafsir Arrozi ketika menafsirkan ayat tersebut, bahkan Imam Al Qurthubi lebih memilih min dalam arti Tab,idl dalam tafsirnya. Berikut tafsirnya:
و «مِن» في قوله «مِنكم» للتبعيض، ومعناه أن الآمِرِين يجب أن يكونوا علماء وليس كل الناس علماء. وقيل: لبيان الجنس، والمعنى لتكونوا كلكم كذلك.
قلت: القول الأوّل أصح؛ فإنه يدل على أن الأمر بالمعروف والنهيّ عن المنكر فرض على الكفاية، وقد عيّنهم الله تعالى بقوله: {ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّـنَّـٰهُمْ فِى ٱلارْضِ أَقَامُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا ٱلزَّكَـوٰةَ وَأَمَرُوا بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ ٱلْمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلامُورِ} (الحج: 41) الآية. وليس كل الناس مُكِّنُوا.